iloveyouyeahyeahyeahToggle Filters

Hello…..

My name is AWahab a.k.a iloveyouyeahyeahyeah

I am an artist, designer and a professional daydreamer...


http://www.iloveyouyeahyeahyeah.com

KITA BISA JADI PAHLAWAN
Pahlawan, sebuah kata dari bahasa sansekerta Pahala wan (orang yang berpahala). Satu pengertian yang sangat luhur dari pencapaian seorang anak manusia. Tidak ada yang merujuk pada peperangan atau yang sejenisnya.
Saat ini pengertian kita tentang pahlawan adalah orang yang berjuang atau berperang untuk negerinya tercinta. Saat kita kecilpun sering kita dikisahkan tentang ke’heroik’an mereka. Kebanyakan tentang pahlawan-pahlawan negeri ini saat menghadapi penjajah yang sekian lama mengangkangi Nusantara. Dengan gagah berani dan tulus mereka bersikap atas situasi yang terjadi. 
Pengertian inilah yang akhirnya tertanam dibenak bocah-bocah kecil dan terbawa sampai mereka tumbuh dewasa. Bahwa pahlawan harus berperang untuk mendapatkan gelarnya. Padahal kalau kita merujuk pengertian diawal, siapapun bisa menjadi pahlawan bagi yang lain, minimal bagi dirinya sendiri. Yang terpenting adalah berjuang bukan hanya terhadap musuh yang nyata (berperang) tetapi untuk segala hal yang ingin dicapai dan diyakini.
Penganugerahan pahlawan kepada orang-orang pilihan tersebut adalah sebagai bentuk penghargaan kita yang telah menikmati hasil dari perjuangan mereka. 
Berjuang lah terus untuk semua keinginan dan hak-hak yang kita yakini. Seorang Diponegoro menjadi pahlawan karena keinginan mempertahankan hak atas kepemilikan lahannya. Walaupun dikemudian hari menjadi pemicu bagi perjuangan yang lebih luas, yang dikenal dengan ”Perang Jawa”. Panglima Besar Soedirman sebelumnya hanyalah seorang guru disebuah HIS Muhammadiyah. Ia dikenal oleh orang-orang di sekitarnya dengan pribadinya yang teguh pada prinsip dan keyakinan, dimana ia selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya, bahkan kesehatannya sendiri. Hingga diusia 31 diangkat sebagai Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang RI. Sebegitu besarnya perjuangan mereka dalam mempertahankan keyakinan dan prinsipnya.
Sikap-sikap dasar inilah yang harus kita tanamkan ke putra-putri kita sebagai penerus bangsa. Sikap teguh terhadap keyakinan dan prinsip serta gigih memperjuangkannya. Dan…bahwa kita semua bisa menjadi ‘Pahlawan’.
Terakhir bisa kita renungi pesan-pesan dari Panglima Besar Soedirman: 
“Insjafilah! Barangsiapa mati, padahal (sewaktoe hidoepnja) beloem pernah toeroet berperang (membela keadilan) bahkan hatinya berhasrat perang poen tidak, maka matilah ia diatas tjabang kemoenafekan.”
“Angkatan Perang Republik Indonesia, lahir di medan perjuangan kemerdekaan nasional di tengah-tengah dan dari revolusi rakyat, dalam pergolakan membela kemerdekaan itu, karena itu Angkatan Perang Republik Indonesia adalah Tentara Nasional, Tentara Rakyat, Tentara Revolusi.
Ingat, bahwa prajurit Indonesia bukan prajurit sewaan, bukan prajurit yang menjual tenaganya karena hendak merebut sesuap nasi dan bukan pula prajurit yang mudah dibelokkan haluannya karena tipu dan nafsu kebendaan, tetapi prajurit Indonesia adalah dia yang masuk ke dalam tentara karena keinsyafan jiwanya, atas panggilan ibu pertiwi. Dengan setia membaktikan raga dan jiwanya bagi keluhuran bangsa dan negara.
Janganlah mudah tergelincir dalam saat yang akan menentukan nasib bangsa dan negara kita, seperti yang kita hadapi pada dewasa ini, fitnah yang besar atau halus, tipu muslihat yang keras atau yang lemah, provokator yang tampak atau sembunyi, semua itu insya Allah dapat kita lalui dengan selamat, kalau saja kita tetap awas dan waspada, memegang teguh pendirian cita-cita, sebagai patriot Indonesia yang sejati.
Dalam menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga tetap jangan lengah, karena kelengahan dapat menyebabkan kelemahan, kelemahan menyebabkan kekalahan berarti penderitaan. Insyaf. Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara dan bangsa, yang didirikan di atas korban harta benda dan jiwa raga, dari rakyat dan bangsanya itu, insya Allah tidak akan dapat dilenyapkan manusia siapa pun juga”.

KITA BISA JADI PAHLAWAN

Pahlawan, sebuah kata dari bahasa sansekerta Pahala wan (orang yang berpahala). Satu pengertian yang sangat luhur dari pencapaian seorang anak manusia. Tidak ada yang merujuk pada peperangan atau yang sejenisnya.

Saat ini pengertian kita tentang pahlawan adalah orang yang berjuang atau berperang untuk negerinya tercinta. Saat kita kecilpun sering kita dikisahkan tentang ke’heroik’an mereka. Kebanyakan tentang pahlawan-pahlawan negeri ini saat menghadapi penjajah yang sekian lama mengangkangi Nusantara. Dengan gagah berani dan tulus mereka bersikap atas situasi yang terjadi. 

Pengertian inilah yang akhirnya tertanam dibenak bocah-bocah kecil dan terbawa sampai mereka tumbuh dewasa. Bahwa pahlawan harus berperang untuk mendapatkan gelarnya. Padahal kalau kita merujuk pengertian diawal, siapapun bisa menjadi pahlawan bagi yang lain, minimal bagi dirinya sendiri. Yang terpenting adalah berjuang bukan hanya terhadap musuh yang nyata (berperang) tetapi untuk segala hal yang ingin dicapai dan diyakini.

Penganugerahan pahlawan kepada orang-orang pilihan tersebut adalah sebagai bentuk penghargaan kita yang telah menikmati hasil dari perjuangan mereka. 

Berjuang lah terus untuk semua keinginan dan hak-hak yang kita yakini. Seorang Diponegoro menjadi pahlawan karena keinginan mempertahankan hak atas kepemilikan lahannya. Walaupun dikemudian hari menjadi pemicu bagi perjuangan yang lebih luas, yang dikenal dengan ”Perang Jawa”. Panglima Besar Soedirman sebelumnya hanyalah seorang guru disebuah HIS Muhammadiyah. Ia dikenal oleh orang-orang di sekitarnya dengan pribadinya yang teguh pada prinsip dan keyakinan, dimana ia selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya, bahkan kesehatannya sendiri. Hingga diusia 31 diangkat sebagai Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang RI. Sebegitu besarnya perjuangan mereka dalam mempertahankan keyakinan dan prinsipnya.

Sikap-sikap dasar inilah yang harus kita tanamkan ke putra-putri kita sebagai penerus bangsa. Sikap teguh terhadap keyakinan dan prinsip serta gigih memperjuangkannya. Dan…bahwa kita semua bisa menjadi ‘Pahlawan’.

Terakhir bisa kita renungi pesan-pesan dari Panglima Besar Soedirman: 

“Insjafilah! Barangsiapa mati, padahal (sewaktoe hidoepnja) beloem pernah toeroet berperang (membela keadilan) bahkan hatinya berhasrat perang poen tidak, maka matilah ia diatas tjabang kemoenafekan.”

“Angkatan Perang Republik Indonesia, lahir di medan perjuangan kemerdekaan nasional di tengah-tengah dan dari revolusi rakyat, dalam pergolakan membela kemerdekaan itu, karena itu Angkatan Perang Republik Indonesia adalah Tentara Nasional, Tentara Rakyat, Tentara Revolusi.

Ingat, bahwa prajurit Indonesia bukan prajurit sewaan, bukan prajurit yang menjual tenaganya karena hendak merebut sesuap nasi dan bukan pula prajurit yang mudah dibelokkan haluannya karena tipu dan nafsu kebendaan, tetapi prajurit Indonesia adalah dia yang masuk ke dalam tentara karena keinsyafan jiwanya, atas panggilan ibu pertiwi. Dengan setia membaktikan raga dan jiwanya bagi keluhuran bangsa dan negara.

Janganlah mudah tergelincir dalam saat yang akan menentukan nasib bangsa dan negara kita, seperti yang kita hadapi pada dewasa ini, fitnah yang besar atau halus, tipu muslihat yang keras atau yang lemah, provokator yang tampak atau sembunyi, semua itu insya Allah dapat kita lalui dengan selamat, kalau saja kita tetap awas dan waspada, memegang teguh pendirian cita-cita, sebagai patriot Indonesia yang sejati.

Dalam menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga tetap jangan lengah, karena kelengahan dapat menyebabkan kelemahan, kelemahan menyebabkan kekalahan berarti penderitaan. Insyaf. Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara dan bangsa, yang didirikan di atas korban harta benda dan jiwa raga, dari rakyat dan bangsanya itu, insya Allah tidak akan dapat dilenyapkan manusia siapa pun juga”.


Hi-Res Photo

11.10.2011 |